Tampilkan postingan dengan label Engine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Engine. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 April 2014 - 20.28

Perlu diketahui tentang BUSI

Mungkin Anda masih ragu untuk memilih/memakai Busi yang sesuai untuk mesin kendaraan Anda, mudah-mudahan uraian singkat di bawah ini dapat membantu..

Tegangan tinggi yang dihasilkan oleh koil pengapian, akan disalurkan melalui elektroda tengah dan elektroda massa busi berupa percikan bunga api.
Kemampuan dalam menghasilkan bunga api pada busi tergantung pada beberapa faktor sebagai berikut:

1. Bentuk Elektroda Busi
Permukaan elektroda busi yang sudah membulat (cembung/tidak rata) akan mempersulit loncatan bunga api, sedangkan bentuk persegi atau runcing dan tajam akan mempermudah loncatan api .
Elektroda tengah busi akan membulat/cembung setelah dipakai dalam waktu lama, oleh karena itu loncatan bunga api akan menjadi lemah dan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian, sebaliknya elektroda yang tipis atau tajam akan mempermudah percikan bunga api, akan tetapi umur penggunaannya menjadi pendek karena lebih cepat aus.

2. Celah/Gap Elektroda Busi
Bila celah/gap elektroda busi besar, bunga api akan menjadi sulit melompat dan tegangan koil pengapian yang diperlukan menjadi lebih tinggi.
Celah/gap busi yang terlalu besar juga mengakibatkan kebutuhan tegangan untuk me¬loncatkan bunga api lebih tinggi. Jika sistem pengapian tidak dapat memenuhi kebutuhan tsb, mesin mulai hidup ter¬sendat sendat pada beban penuh. Isolator isolator bagian tegangan tinggi cepat rusak karena dibebani tegangan pengapian yang luar biasa tingginya. Mesin akan sulit dihidupkan.
Elektroda busi yang aus, berarti celahnya bertambah, loncatan bunga api menjadi lebih sulit juga akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian.
Sedangkan celah/gap elektroda busi yang terlalu kecil, mengakibatkan loncatan api menjadi lemah/kecil dan Elektroda cepat kotor, khusus pada mesin 2tak.

3. Tekanan Kompressi 
Bila tekanan kompresi lebih tinggi, maka bunga apipun akan menjadi semakin sulit untuk meloncat dan tegangan yang dibutuhkan semakin tinggi, hal inu juga terjadi pada saat beban berat dan kendaraan bejalan lambat dengan kecepatan rendah dan katup gas terbuka penuh, (misalnya kendaraan dalam keadaan menanjak).

Ledakan tekanan pembakaran campuran bensin-udara akibat loncatan bunga api pada busi disebut pembakaran, sedangkan pembakaran itu tidak terjadi bersamaan pada saat busi meloncatkan bunga api.
Pada waktu loncatan bunga api terjadi, maka titik bunga api mengaktifkan pembakaran molekul campuran bensin-udara dan merambat kesemua arah yang akan menimbulkan tekanan pembakaran.

Cepat perambatan api ini akan tertahan oleh suhu elektroda busi yang cukup rendah dan suhu elektroda yang rendah juga akan menyerap panas dan cenderung memadamkan rambatan api yang sebelumnya sudah mulai menyala, oleh karena itu diperlukan titik nyala api yang cukup kuat agar dapat mempertahan rambatan api pada campuran bensin-udara.
Bila titik loncatan bunga api terlalu kecil, tidak akan mampu membakar campuran bensin-udara, akibatnya terjadi kesalahan pembakaran.

Tingkat Panas Busi

Tingkat panas dari suatu busi adalah jumlah panas yang dapat salurkan/dibuang oleh busi.
Busi yang dapat menyalurkan/membuang panas lebih banyak disebut busi dingin, karena busi itu selalu dingin, sedangkan busi yang lebih sedikit menyalurkan panas disebut busi panas, karena busi itu sendiri tetap panas.

Pada busi terdapat kode abjad dan angka yang menerangkan struktur busi, karakter busi dan lain lain. Kode¬-kode tersebut berbeda beda tergantung pada pabrik pembuatnya, tetapi biasanya semakin besar nomomya menunjukkan semakin besar tingkat penyebaran panas; artinya busi makin dingin. Dan semakin kecil nomornya busi semakin panas.

Batas suhu operasional terendah dari busi disebut dengan self cleaning temperature (busi mencapai suhu membersihkan dengan sendirinya), sedangkan batas suhu tertinggi disebut dengan istilah pre ignition, dimana busi akan dapat menyalakan campuran bensin-udara dengan sendirinya tanpa meloncatkan bunga api (busi terlalu panas sehingga dapat membakar campuran dengan sendirinya).

Busi dapat bekerja dengan baik bila suhu elektroda tengahnya sekitar 450 sampai 950 derajat C
Busi yang ideal adalah busi yang mempunyai karakteristik yang dapat beradaptasi terhadap semua kondisi operasional mesin mulai dari kecepatan rendah sampai kecepatan tinggi.

Bila temperatur elektroda tengah kurang dari 450 derajat C, maka akan terbentuk karbon oleh pembakaran campuran bensin-udara yang tidak sempuma dan akan melekat pada permukaan isolasi porselin busi, sehingga menurunkan tahanan/resistance dengan rumahnya, akibatnya, tegangan tinggi yang diberikan ke elektroda tengah akan menuju ke massa tanpa meloncat dalam bentuk bunga api pada celah eleklroda, sehingga mengakibatkan tarjadinya kesalahan pembakaran.

Untuk pembakaran yang sempurna dibutuhkan temperatur 450 derajat C atau lebih.
Pada suhu tersebut karbon pada insulator akan terbakar habis. Temperatur ini disebut self cleaning temperature (suhu busi dapat bersih dengan sendirinya)

Bila suhu elektroda tengah melebihi 950 derajat C, maka elektroda busi akan menjadi sumber panas yang dapat membakar campuran bahan bakar tanpa adanya bunga api, hal ini disebut dengan istilah pre ignition, jika terjadi pre ignition, maka daya mesin akan turun, karena waktu pengapian tidak lepat, bisa mengakibatkan elektrroda busi atau bahkan piston menjadi retak, leleh sebagian atau bahkan lumer, oleh sebab itu temperatur elektroda harus dipertahankan di bawah 950 derajat C.

Busi dingin mempunyai insulator yang lebih pendek, karena permukaan penampang yang berhubungan dengan api sangat kecil sehingga rute penyebaran panasnya lebih pendek, jadi penyebaran panasnya sangat baik dan suhu elektroda tengah tidak naik terlalu tinggi, oleh sebab itu jika dipakai busi dingin pre ignition lebih sulit terjadi.

Sebaliknya karena busi panas mempunyai insulator bagian bawah yang lebih panjang, maka luas permukaan yang berhubungan dengan api lebih besar, rute penyebaran panas lebih panjang, akibatnya temperatur elektroda tengah naik cukup tinggi dan self cleaning temperature dapat dicapai lebih cepat, meskipun pada kecepatan yang rendah dibandingkan dengan busi dingin.
aan Engine
20.02

Langkah kerja dalam merawat sistem pengapian

Langkah kerja atau hal-hal yang dilakukan dalam perawatan sistem pengapian konvensional adalah sebagai berikut:
  1. Memeriksa secara visual kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian.
  2. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi.
  3. Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi.
  4. Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor.
  5. Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer.
  6. Memeriksa koil pengapian.
  7. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina/menyetel sudut dwell.
Berikut akan dijelaskan satu persatu dari ketujuh langkah kerja dalam perawatan sistem pengapian konvensional.
A) Memeriksa secara visual kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian
Memeriksa Secara Visual Komponen Sistem Pengapian

Pemeriksaan secara visual meliputi hal-hal berikut:
  • Memeriksa jumlah elektrolit baterai (kurang atau tidak), Memeriksa sambungan terminal baterai (kotor atau tidak), Memeriksa kondisi kabel baterai dari kemungkinan putus atau terbakar.
  • Memeriksa koil pengapian dari kemungkinan terminalnya kotor, kabel kendor, putus, terbakar atau bodi retak.
  • Memeriksa distributor dari kemungkinan retak, kotor, terminal aus dan pemasangan kurang baik.
  • Memeriksa kabel busi dari kemungkinan atau pemasangan kurang tepat.
B) Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  • Lepas kabel tegangan tinggi yang menempel dibusi, catat urutan kabel yang dilepas agar urutan pengapian tidak salah, karena kabel busi harus dipasang sesuai dengan urutan pengapian atau firing order (FO) yang benar.
Cara Melepas Kabel Tegangan Tinggi yang Benar
  • Lepas busi satu persatu, periksa bagaimana warna dan deposit karbon pada rongga busi, kondisi elektroda dan masukkan busi pada nampan yang berisi bensin.
  • Bersihkan rongga busi menggunakan sikat dan bersihkan elektroda busi dengan amplas. Perhatian: Jangan membersihkan kotoran pada rongga busi dengan benda keras, seperti obeng kecil atau kawat karena dikhawatirkann isolator porselin menjadi retak sehingga busi mati.
  • setel celah elektroda busi sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan kendaraan.
Mengukur Celah Busi, Menyetel Celah Busi dan Membersihkan Busi
  • Pasang kembali busi pada silinder. Pemasangan yang benar adalah memutar busi dengan tenaga ringan, setelah ulir habis mengencangkan 1/4 putaran dengan kunci busi.
Saat kita melakukan pengujian busi di luar silinder, kita dapat menyimpulkan busi masih baik, namun terdapat kemungkinan saat di dalam silinder busi mati karena busi bekerja pada tekanan lebih tinggi, sehingga kesimpulan kita salah, untuk mengatasi hal tersebut dibuat Spark plug cleaner and tester.

Cara menggunakan spark plug cleaner tester adalah sebagai berikut:
Membersihkan busi dengan spark plug cleaner tester
  1. Pasang busi yang akan dibersihkan pada lubang pembersih (3), tekan tombol udara untuk membersihkan kotoran yang menempel.
  2. Tekan tombol pasir pembersih sehingga pasir pembersih akan menyemprot rongga busi (atur tekanan 3-4 kg/cm2, waktu 3-4 detik).
  3. Ulangi langkah 1. dan 2. diatas sampai busi bersih. Setelah busi bersih maka tekan tombol udara (1) agar pasir yang masih menempel dapat bersih.
Spark Plug Cleaner tester

Memeriksa busi menggunakan spark plug cleaner tester
  1. Pasang busi pada lubang tempat pemeriksaan, bila diameter lubang dengan busi tidak tepat ganti ukuran lubang (diameter lubang yang tersedia untuk ukuran busi 10mm, 12mm dan 14mm).
  2. Tekan tombol spark test, dan lihat apakah terdapat percikan api pada celah jarum, yang dapat dilihat pada kaca pandang (9) dan (10), bila ada berarti alat berfungsi.
  3. Pasang kabel tegangan tinggi pada terminal busi.
  4. Tekan tombol spark test (6), pada beberapa kondisi tekanan, seperti ditunjukan tabel di bawah ini.
Tekanan yang digunakan
Hasil pengujian yang seharusnya
Tekanan 2-3 kg/cm2
Terjadi percikan api pada kaca pandang (9)
Tekanan 3-4 kg/cm2
Terjadi percikan pada kaca pandang (9) dan (10)
Tekanan 5 kg/cm2
Terjadi percikan pada kaca pandang (10)
Tekanan 2-3 kg/cm2
Terjadi percikan api pada kaca pandang (10) saja berarti busi sudah jelek
  

C) Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi
  1.  Lepas kabel tegangan tinggi, bersihkan ujung kabel dari kemungkinan ada karat menggunakan amplas.
  2. Periksa tahanan kabel menggunakan ohm meter (multi meter bagian ohm, posisi selektor pada 1xK), tahanan kabel harus kurang dari 25 kilo ohm.
Mengukur Tahanan Kabel Tegangan Tinggi/Kabel Busi
Hal yang harus diperhatikan: jangan menekuk atau menarik kabel berlebihan sebab dapat merusak kabel tegangan tinggi.

D) Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor
  1. Lepas tutup distributor dengan melepas kait penguncinya.
  2. Periksa tutup distributor dari kemungkinan retak, karat/kotor pada terminal tegangan tinggi.
  3. Bersihkan terminal tegangan tinggi dengan amplas.
  4. Lepas rotor, bersihkan karat/deposit pada ujung rotor menggunakan amplas.
E) Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer
  1. Periksa permukaan poros nok dari kemungkinan aus, keausan secara visual dapat dilihat dari banyaknya goresan pada nok. Lumasi poros menggunakan grease.
  2. Periksa kerja centrifugal advancer dengan cara: Pasang kembali rotor yang telah dibersihkan, putar rotor searah putaran rotor saat mesin hidup. Lepas rotor maka rotor harus segera kembali. Kekocakkan rotor saat diputar tidak boleh berlebihan.
  3. Periksa vacum advancer dengan cara: lepas slang vacum, hubungkan ke pompa vacum, lakukan pemompaan, amati dudukan platina (breaker plate) harus bergerak. Bila tidak mempunyai pompa vacum dapat dengan cara dihisap dengan kuat.
Memeriksa Centrifugal Advancer dan Vacum Advancer

F) Memeriksa koil Pengapian
Langkah-langkah dalam memeriksa koil pengapian yaitu:
  • Atur selektor multi meter kearah X1ohm, kalibrasi ohm meter dengan cara menghubungkan kedua colok ukur, setel penunjukan jarum tepat pada 0 ohm, bila penyetelan tidak tercapai periksa/ganti baterai multi meter.
  • Periksa tahanan resistor dengan menghubungkan colok ukur pada kedua resistor. Nilai tahanan resistor seharusnya 1,3-1,5 ohm. Pada koil pengapian jenis internal resistor, pengukuran resistor dengan menghubungkan colok ukur pada terminal (B) dan terminal (+).
Memeriksa Tahanan Resistor dan Kebocoran ke Bodi
  • Periksa tahanan primer koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal (+) dengan terminal (-) koil. Nilai tahanan seharusnya 1,3-1,6 ohm.
Memeriksa Tahanan Primer Koil dan Sekunder Koil
  • Atur selektor pada posisi 1XK, kalibrasi ohm meter dengan cara menghubungkan kedua colok ukur, setel penunjukan tepat pada 0 ohm.
  • Periksa tahanan sekunder koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal (+) dengan terminal tinggi koil. Nilai tahanan 10-15 kilo ohm.
  • Periksa kebocoran atau hubungan singkat dengan cara menghubungkan (+) koil dengan bodi. Tahanan harus menunjukan tak hingga.
G) Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina/menyetel sudut dwell
Menyetel celah platina dan sudut dwell merupakan pekerjaan yang sama.
Perbedaan antara menyetel sudut dwell dengan menyetel celah platina adalah:
  • Menyetel sudut dwell menggunakan alat dwell tester untuk mengukur lama platina menutup. Pengukuran dilakukan dengan alat ukur elektrik, hasil pengukuran lebih akurat tapi harga alat mahal.
  • Menyetel celah platina menggunakan alat feeler gauge, untuk mengukur celah platina sebagai indikator lama atau sudut platina membuka. Hasil pengukuran kurang akurat, tetapi harga alat 1/1000 dari harga alat dwell tester.
  • Bila celah platina besar maka sudut dwell kecil, dan sebaliknya bila celah platina kecil maka sudut dwell menjadi besar.
Langkah menyetel celah platina
Langkah-langkah dalam penyetelan celah platina yaitu sebagai berikut:
  • Putar puli poros engkol sampai rubbing block pada puncak nok atau platina membuka maksimal.
  • Periksa kondisi permukaan platina dari kemungkinan aus, terbakar, kontak yang tidak tepat. Bila terjadi keausan platina, lepas platina dengan melepas sekerup pengikatnya. Amplas permukaan platina sampai keausan hilang, periksa ketepatan kontak permukaannya. Membersihkan platina juga dapat dilakukan langsung tanpa harus melepas dari dudukannya, namun dengan cara ini hasilnya sering menyebabkan permukaan kontak tidak tepat atau adanya serpihan amplas tertinggal dipermukaan kontak sehingga saat platina menutup tidak ada aliran listrik akibat terganjal oleh serpihan amplas.
Menyetel Celah Platina
  • Pasang kembali platina, geser penyetelan platina sampai platina membuka 0,40-0,50 mm, kencangkan sekerup pengikat namun platina masih dapat digeser.
  • Setel celah platina dengan cara menyisipkan feeler gauge ukuran 0,40-0,50 mm, bila feeler tidak dapat masuk berarti celah terlalu kecil, dan sebaliknya. Letakan obeng (-) pada tempat penyetelan putar obeng searah jarum jam untuk memperbesar celah dan sebaliknya. Kencangkan sekerup pengikat agar celah tidak berubah.
Beberapa kendaraan menggunakan celah rubbing block sebagai spesifikasi menyetel celah platina. Cara penyetelan kedua model tersebut sama, namun bila spesifikasi kendaraan menentukan celah rubbing block kita setel celah platina hasilnya dapat berbeda, untuk itu ikuti petunjuk yang diberikan produsen kendaraan.
Kelebihan penyetelan celah pada rubbing block adalah permukaan kontak platina tidak kotor oleh minyak pada feeler gauge, adanya minyak pada permukaan kontak menyebabkan oksidasi pada permukaan kontak lebih cepat sehingga usia platina lebih pendek.

Cara menyetel sudut dwell
Cara menyetel sudut dwell dengan dwell tester yaitu:
  • Pasang dwell tester sesuai petunjuk alat, untuk model 2 kabel maka kabel merah dihubungkan terminal distributor atau (-) koil pengapian, kabel hitam dihubungkan ke massa.
Pemasangan dwell Tester
  • Hidupkan mesin, lihat besar sudut dwell yang ditunjukan oleh alat ukur. Pada mesin 4 silinder spesifikasi sudut dwell sebesar 52+2 derajat.
  • Bila sudut dwell terlalu besar, berarti celah platina terlalu sempit. Matikan mesin, buka tutup distributor, kendorkan mur pengikat platina, setel sudut dwell dengan menggeser dudukan platina kearah celah platina yang lebih besar.
  • Pasang kembali tutup distributor, hidupkan mesin, periksa apakah hasil penyetelan sudut dwell telah tepat. Ulangi bila hasil penyetelan belum tepat.

aan Engine
19.59

CARA KERJA SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL

Berikut akan dijelaskan mengenai prinsip kerja sistem pengapian konvensional.
Prinsip kerja sistem pengapian konvensional ada dua kondisi yaitu kondisi saat kunci kontak ON platina menutup dan Aliran arus listrik pada saat platina membuka.
1)  Pada saat kunci kontak ON, Platina menutup
Aliran Arus Listrik Saat Konci Kontak ON, Platina Menutup
Aliran arusnya adalah sebagai berikut:
Baterai —-> Kunci kontak —-> Primer koil —-> Platina —-> Massa.
Akibat aliran listrik pada primer koil, maka inti koil menjadi magnet.
2) Saat platina membuka
Aliran Arus Saat Platina terbuka
Saat platina membuka, arus listrik melalui primer koil terputus, terjadi induksi tegangan tinggi pada sekunder koil, sehingga arus akan mengalir seperti dibawah ini:
Sekunder koil —-> Kabel tegangan tinggi —-> Tutup distributor —-> Rotor —-> Kabel tegangan tinggi (kabel busi) —-> Busi —-> Massa.
Akibat aliran listrik tegangan tinggi dari sekunder koil, mampu meloncati tahanan udara antara elektroda tengah dengan elektroda massa pada busi dan menimbulkan percikan bunga api.
 KOMPONEN SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL PADA MOBIL
Sistem pengapian konvensional terdiri dari beberapa komponen. Berikut akan dijelaskan apa saja komponen sistem pengapian beserta dengan fungsi masing-masing komponen sistem pengapian.
1. Baterai
Baterai berfungsi sebagai sumber energi listrik.

2.Kunci Kontak
Kunci kontak berfungsi untuk memutuskan dan menghubungkan listrik pada rangkaian atau mematikan dan menghidupkan sistem. Kunci kontak pada kendaraan memiliki 3 atau lebih terminal.
Terminal utama pada kontak adalah terminal B atau AM dihubungkan ke baterai, Terminal IG dihubungkan ke (+) koil pengapian dan beban lain yang membutuhkan, terminal ST dihubungkan ke selenoid starter. Jika kunci kontak tersebut memiliki 4 terminal maka terminal yang ke 4 yaitu terminal ACC yang dihubungkan ke accesoris kendaraan, seperti: radio, tape dan lain-lainnya.

2. Koil Pengapian
Koil pengapian berfungsi sebagai step up trafo, yaitu menaikan tegangan dari tegangan baterai 12 Volt menjadi tegangan tinggi lebih dari 15.000 Volt. Koil pengapian terdiri dari: inti besi lunak, primer koil, sekunder koil, rumah koil dan terminal koil.
 Hubungan terminal Pada Kunci Kontak
2. Koil Pengapian
Koil pengapian berfungsi sebagai step up trafo, yaitu menaikan tegangan dari tegangan baterai 12 Volt menjadi tegangan tinggi lebih dari 15.000 Volt. Koil pengapian terdiri dari: inti besi lunak, primer koil, sekunder koil, rumah koil dan terminal koil.
Konstruksi Koil Pengapian
3. Distributor
Distributor berfungsi untuk mendistribusikan induksi tegangan tinggi sekunder koil ke busi sesuai dengan urutan pengapian motor atau FO (firing order).
Distributor merupakan tempat sebagian besar sistem pengapian. Komponen yang ada pada distributor antara lain: platina (kontak breaker), kondensor, nok kontak pemutus arus, centrifugal advancer, vacum advancer, rotor distributor dan tutup distributor.
MERAWAT SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL
Kinerja sistem pengapian sangat besar pengaruhnya terhadap kesempurnaan proses pembakaran di dalam silinder, dengan sistem pengapian yang baik akan diperoleh performa mesin optimal dan pemakaian bahan bakar yang hemat. Agar kinerja sistem pengapian selalu dalam kondisi baik maka sistem ini perlu dirawat dengan baik. Perawatan sistem pengapian dengan cara membersihkan, melumasi dan menyetel komponen atau mesin.
Sistem Pengapian Konvensional
Komponen sistem pengapian yang cepat kotor adalah busi, platina, ujung rotor dan terminal pada tutup distributor. Bagian tersebut diatas perlu diperiksa dan dibersihkan kotorannya menggunakan amplas.
Bagian sistem pengapian yang perlu diberi pelumas adalah Nok dan Rubbing block, Poros Nok dan Centrifugal Advancer.
Penyetelan sistem pengapian meliputi penyetelan celah busi, celah platina atau besar sudut dwell, dan penyetelan saat pengapian.
Bagi pemilik kendaraan perawatan dapat dilakukan sendiri dengan alat yang terdapat pada kelengkapan kendaraan, alat dan bahan yang diperlukan, yaitu:
  • Bahan : Grease (pelumas); amplas.
  • Alat : Kunci busi; kunci ring nomor 10, 12, 19; obeng (+); obeng (-); feeler gauge; lampu 12 volt dengan dua kabel; multimeter.
Selain alat diatas pada bengkel yang baik menggunakan beberapa alat, diantaranya:
  • Spark plug cleaner and tester, merupakan alat untuk membersihkan dan memeriksa busi.
  • Spark plug gauge, untuk mengukur dan menyetel celah busi.
  • Tune up tester, untuk mengukur putaran dan sudut dweel.
  • Timing tester, untuk mengetahui saat pengapian.
  • Condensor tester, berfungsi untuk memeriksa kapasitas kondensor.
  1. Memeriksa secara visual kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian.
  2. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi.
  3. Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi.
  4. Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor.
  5. Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer.
  6. Memeriksa koil pengapian.
  7. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina atau menyetel sudut dwell.
JENIS-JENIS GANGGUAN PADA SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL
Kinerja sistem pengapian sangat besar pengaruhnya terhadap kesempurnaan proses pembakaran di dalam silinder, dengan sistem pengapian yang baik akan diperoleh performa mesin optimal dan pemakaian bahan bakar yang hemat.
Gangguan sistem pengapian konvensional pada motor bensin paling sering terjadi dibandingkan sistem lain.
Berikut akan diuraikan mengenai gejala dari gangguan pada sistem pengapian konvensional beserta dengan kemungkinan penyebab dan cara mengatasi gangguan yang terjadi pada sistem pengapian konvensional.
No. GEJALA KEMUNGKINAN PENYEBAB CARA MENGATASI
1 Mesin tidak dapat hidup (tidak ada percikan api di busi) Busi mati atau deposit berlebihan. Ganti busi atau bersihkan.
Kabel tegangan tinggi bocor berlebihan. Ganti kabel tegangan tinggi.
Rotor tidak terpasang. Pasang rotor.
Urutan pengapian tidak benar. Perbaiki urutan pengapian.
Platina terganjal kotoran Bersihkan kotorannya.
Platina menutup terus atau membuka terus. Setel celah platina atau sudut dwell
Koil mati Ganti koil
Kondensor mati Ganti kondensator
Konektor kabel lepas Pasang konektor kabel yang lepas
Kabel putus Ganti atau perbaiki kabel yang putus
Kontak rusak Ganti kontak
2 Mesin sulit hidup (percikan api dibusi kecil) Deposit (penumpukan kerak) dibusi berlebihan. Bersihkan atau ganti busi.
Kabel tegangan tinggi bocor. Ganti kabel tegangan tinggi.
Tutup distributor kotor. Bersihkan terminal ditutup distributor.
Karbon ditutup distributor hilang. Pasang karbon atau ganti tutup distributor.
Tutup distributor retak. Ganti tutup distributor.
Urutan pengapian tidak benar. Perbaiki urutan pengapian.
Kontak platina kotor. Bersihkan kontak atau ganti.
Setelan celah platina tidak tepat. Setel celah platina atau sudut dwell.
Saat pengapian tidak tepat. Saat setel pengapian
Koil rusak. Ganti koil.
Kondensor rusak. Ganti kondensor.
Konektor kabel kotor. Bersihkan terminal konektor kabel.
3 Terjadi ledakan di knalpot Busi kotor. Bersihkan busi atau ganti busi
Platina kotor. Bersihkan platina atau ganti.
Saat pengapian terlalu mundur. Stel saat pengapian.
No. GEJALA KEMUNGKINAN PENYEBAB CARA MENGATASI
4 Terjadi ledakan di knalpot saat pedal gas dilepas Kerja vacum advancer kurang sempurna. Perbaiki mekanisme vacum advancer.
5 Terjadi ledakan di knalpot saat pedal gas ditekan Kerja centrifugal advancer kurang sempurna. Perbaiki mekanisme centrifugal advancer.
6 Busi cepat kotor Pemakaian busi yang tidak tepat Ganti busi dengan tingkat panas yang tepat.


Platina kotor. Bersihkan atau ganti platina.


Saat pengapian tidak tepat. Stel saat pengapian.
7 Elektroda busi meleleh Pemakaian tingkat busi yang terlalu panas. Ganti busi dengan tingkat panas busi yang lebih dingin.
Posisi Platina Hasil Pengukuran Keterangan
Membuka 12 volt Baik
0 volt Platina hubung singkat
Kabel platina hubung singkat
Tidak ada arus ke koil pengapian
Menutup 0 volt Baik
12 volt Kontak platina terganjal kotoran
Kabel ke platina putus

aan Engine
Jumat, 28 Maret 2014 - 00.04

Mengenal Sistem Pendingin

Sistem pendingin berguna untuk memelihara suhu mesin pada level yang sesuai. Sistem pendinginan mesin ada 2 macam, menggunakan air pendingin/coolant serta menggunakan udara. Sistem  pendinginan mobil umumnya menggunakan coolant/air sedangkan sistem pendinginan sepeda motor umumnya menggunakan udara. Kali ini, penulis ingin menceritakan pengalaman penulis memahami sistem pendinginan mesin mobil daewoo matiz (also known as) a.k.a chevrolet spark.
Gambar a: Sistem Pendingin Mesin Mobil (Sumber: Servicel Manual Daewoo Matiz)
Sistem pendingin berbasis air menggunakan beberapa komponen, yaitu: radiator (a), kipas pendingin (b), thermostat (c), pompa air/coolant (d), drive belt serta selang pendingin. Semua komponen tersebut harus berfungsi dengan baik agar sistem pendingin dapat bekerja. Pompa coolant digerakkan oleh timing belt mesin saat mobil dihidupkan. Pompa coolant menyedot coolant/air dari radiator (panah a ke d) dan menyalurkan coolant/air ke blok mesin dan kepala silinder (blok mesin dilapisi jaket yg bisa dilewati coolant untuk mendinginkan mesin). Kemudian coolant melalui distributor (e) dan throttle body (f).

Saat mesin baru dinyalakan di pagi hari maka proses warming up/pemanasan terjadi. Pada kondisi ini, coolant yang disedot oleh pompa coolant tidak kembali ke radiator untuk mendinginkan coolant/air (Panah c-a masih tertutup). Justru menuju ke heater core (panah e-g) agar coolant dan mesin cepat panas. Mesin mobil perlu menaikkan suhu coolant pada titik suhu tertentu agar mesin mobil dapat bekerja stabil atau mobil bisa mulai dijalankan. Pada saat suhu telah mencapai 82 celcius, maka thermostat (c) membuka sehingga mengijinkan coolant masuk ke radiator (panah c-a) untuk mendinginkan suhu coolant/air. Thermostat sebenarnya berfungsi sebagai pintu air bagi coolant apakah boleh dialirkan ke radiator atau tidak. Sistem kerja thermostat akan dijelaskan detil pada bagian tersendiri.

Heater core (g) dapat memanaskan suhu coolant/air atau mencairkan coolant bila membeku (terjadi di daerah sub-tropis saat musim salju).  Tabung reservoir (h) yang berisi cadangan coolant/air yang terhubung ke 3 komponen yaitu ke radiator (h - a), throttle body (f - h) serta ke mesin (h - d). (Nanti Direvisi dengan gambar asli).
Radiator
Gambar b: Diagram Sistem Pendinginan Mobil (Sumber: Service Manual Daewoo Matiz)
Radiator adalah komponen berbentuk tabung pipih segi empat yang bersirip yang berfungsi untuk mendinginkan coolant/air. Radiator daewoo matiz tidak memiliki penutup yang bisa dibuka yang biasanya untuk mengisi coolant/air seperti umumnya radiator pada mobil Jepang. Akibatnya, coolant harus diisi melalui Tabung reservoir. Radiator daewoo matiz seperti ditunjukan Gambar b pada angka 4, mengalir dari kanan ke kiri, bukan dari atas ke bawah seperti umumnya mobil Jepang.
Tabung Reservoir

Tabung reservoir berisi cadangan coolant/air bagi sistem pendinginan. Tabung reservoir (h) terhubung ke radiator (a), throttle body (f) serta mesin (d) melalui selang. (Ada tambahan gambar dan aliran nanti) Ketika mobil berjalan, coolant terdistribusi dan menjadi panas. Akibat suhu yang sangat tinggi, sebagian coolant/air berbentuk gas dan menguap ke atas, dari radiator menuju tabung reservoir (a - h). Logika ini memang benar. Kenapa? Karena posisi radiator lebih rendah daripada tabung reservoir, jadi jika coolant bisa naik ke tabung reservoir tentunya coolant tsb berbentuk gas/uap. Ketika mesin mobil mati,  gas di dalam tabung reservoir mengembun (menjadi air kembali), mirip hujan kalo di bumi. Kejadian ini mengakibatkan coolant dalam bentuk gas akan mencair dan kembali ke radiator. Penting bagi pemilik mobil untuk mengontrol agar level ketinggian coolant/air di tabung reservoir selalu di antara batas MIN-MAX sesuai tanda di Tabung Reservoir. Jika coolant/air kurang, maka tuangkan coolant sampai batas MAX pada Tabung Reservoir.

Coolant Pump / Pompa Pendingin
Coolant pump adalah pompa pendingin centrifugal yang digerakkan sabuk timing belt mesin. Pompa pendingin terdiri dari impeller, drive shaft dan puli/gir. Tidak banyak yang dibahas pada coolant pump karena lokasinya berada di dalam blok mesin.
 

Thermostat
Gambar g: Thermostat sebagai sensor pintu air ke radiator
Thermostat (i) pada daewoo matiz mempunyai lilin bulat ditengah (j). Thermostat berfungsi untuk mengontrol aliran coolant/air pada sistem pendingin mobil. Pada thersmotat, terdapat lilin bulat yang ditutupi lapisan logam (j). Lilin pada thermostat akan mengembang/mencair saat panas dan akan mengkerut/menyusut saat dingin. 
Saat mobil berjalan dan mesin mulai panas maka suhu coolant/air pendingin secara berangsur-angsur akan meningkat. Ketika coolant/air mencapai suhu 82 celcius, lilin bulat pada thermostat mulai mengembang dan mendesak lapisan logam, lalu memaksa valve/katup membuka. Pada saat katup membuka maka coolant/air akan mengalir ke radiator untuk didinginkan. Ketika coolant mulai dingin saat mesin mobil dimatikan, maka lilin bulat dari thermostat mengkerut/menyusut yang menyebabkan pegas/per menutup katup sehingga coolant/air dari mesin dan distributor tidak dapat mengalir ke radiator.

Thermostat mulai membuka pada suhu 82 celcius dan terbuka secara penuh pada suhu 95 celcius. Thermostat akan menutup aliran ke radiator pada suhu 80 celcius. 



Gejala-gejala kerusakan pada Thermostat

  • Mesin tidak pernah mencapai suhu operasi. Saat mobil dihidupkan pertama kali biasanya terjadi proses pemanasan/warming up dimana pada saat itu aliran coolant dari mesin, distributor seharusnya menuju heater core. Namun karena thermostat posisinya terbuka terus dan tidak menutup (stuck opened), maka aliran coolant justru menuju radiator untuk didinginkan padahal mesin menghendaki suhu coolant panas karena mobil baru saja hidup. Jika indikator panel instrumen di dashboard menunjukkan suhu tidak naik-naik sejak pertama kali mobil dihidupkan, kemungkinan thermostat dalam posisi terbuka terus sehingga harus dicek. 
  • Mesin sangat panas dengan ditandai panel instrument dashboard tidak menunjukkan ke indikator ditengah-tengah namun lebih ke arah kanan (hot). Coba buka kap mesin anda, lalu pegang selang antara reservoir dan radiator (h - a). Jika selang tidak panas namun mesin panas, kemungkinan thermostat dalam posisi tertutup terus sehingga tidak ada aliran coolant/air panas dari mesin, distributor menuju ke radiator. Karena tidak ada aliran air panas ke radiator, maka tidak ada uap/gas panas dari radiator menuju reservoir sehingga selang (h - a) adem-adem saja. Untuk menguji suatu thermostat, silakan liat di bagian akhir artikel ini.


Cooling Fan / Kipas Pendingin

Jika anda berdiri berhadapan-hadapan dengan hidung mobil anda, maka terdapat komponen yang dipasang berurutan yaitu: Codensor AC - Radiator - Cooling fan. Cooling fan memberikan angin melewati radiator dan Codensor AC untuk mempercepat proses pendinginan. Terutama terjadi bila mobil dalam keadaan berhenti / macet atau mobil bergerak terlalu pelan. Daewoo matiz menggunakan kipas dengan diameter 32 cm dan 7 baling-baling. Motor elektrik dipasang berdekatan dengan radiator untuk memutar kipas.
Gambar: Cooling Fan untuk mendinginkan radiator dan condensor AC

Cooling fan dikendalikan oleh Electronic Control Module (ECM) memiliki 2 kecepatan, rendah dan tinggi. Ada beberapa aturan bagaimana kipas pendingin berputar.

  • ECM akan memutar kipas dengan kecepatan rendah jika suhu coolant/air mencapat 93 celcius dan memutar kipas dengan kecepatan tinggi jika suhu coolant/air telah mencapai 100 celcius. 
  • ECM akan mengubah dari kecepatan tinggi ke rendah bila suhu coolant/air turun ke 97 celcius dan mematikan kipas jika suhu coolant/air turun sampai ke 90 celcius. 
  • ECM akan selalu memutar kipas dengan kecepatan tinggi bila AC mobil diaktifkan, tanpa memperdulikan berapa suhu coolant/air pada saat itu.


Engine Coolant Temperatur (ECT) Sensor

ECT sensor (n) digunakan oleh ECM untuk mengendalikan kipas pendingin / cooling fan. Jika cooling fan tidak beroperasi maka ada 2 kemungkinan kerusakan yaitu motor elektrik cooling fan atau ECT sensor-nya. Cara mengujinya sangat mudah, nyalakan saja AC mobil dan seharusnya kipas pendingin berputar tinggi. Bila tidak berputar, anda bisa memvonis bahwa kerusakan berasal dari motor elektrik cooling fan. Untuk menguji kerusakan ECT sensor, anda bisa memanaskan mobil dengan posisi kap mobil tertutup lalu tunggu beberapa menit. Dengan posisi mobil berhenti namun mesin nyala seharusnya berangsur-angsur suhu coolant/air meningkat dan menyebabkan kipas pendingin berputar rendah. Jika dalam 15 menit tidak berputar kemungkinan sensor ECT-nya rusak, meskipun ini jarang terjadi. Ini analisa saya aja sih, benar apa enggak ya?
Gambar i: CT dan ECT Sensor
Coolant Temperatur (CT) Sensor

CT sensor (m) digunakan oleh panel instrumen di dashboard dekat setir mobil anda. Jika mesin dinyalakan namun panel instrumen suhu tidak bergerak sama sekali, maka kemungkinan CT sensor-nya yang rusak. Lokasi ECT sensor dan CT sensor berdekatan dan menempel di bagian komponen Distributor.
aan Engine